Forum Game

Senin, 17 Desember 2012

Bangga jadi orang indonesia

Orang Indonesia di Balik Game "Assassin's Creed"

Quote:


Richard Bharata (kiri) Level Artis Ubisoft Studios


KOMPAS.com — Seri video game Assassin's Creed dari Ubisoft yang kini telah mencapai judul kelima (Assassin's Creed III) dikenal sebagai permainan yang menyajikan gameplay terbuka di tengah tempat-tempat historis yang tervisualisasi dengan indah.

Dalam seri game ini pemain menjelajahi lokasi-lokasi bersejarah, seperti kota Istanbul pada zaman Ottoman, Roma dalam masa Renaissance, serta Amerika Serikat sewaktu dilanda perang saudara. Semuanya ditampilkan dengan detail lingkungan dan arsitektur yang akurat sesuai era masing-masing.

Untuk mewujudkan itu semua diperlukan kerja keras yang tidak sedikit, mulai dari riset sejarah, kunjungan ke lokasi yang sesungguhnya, hingga proses pengembangan lingkungan dalam game. Nah, di sinilah Richard Wych Bharata Setiawan, seorang kelahiran Indonesia, memainkan peranannya.



Lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti ini menjabat sebagai Level Artist di studio besar Ubisoft di Montreal, Kanada.

Sebagai perancang lingkungan game, Richard terlibat dalam pembuatan sejumlah game dalam seri Assassin's Creed, termasuk Brotherhood dan Revelations yang merupakan ekspansi dari judul Assassin's Creed II. Dia juga turut menangani proses desain dalam seri game populer lain bikinan Ubisoft, yaitu Prince of Persia.


Quote:
Dari lokal ke mancanegara

Richard tidak serta-merta melompat ke Kanada begitu lulus kuliah. Pria yang akan segera menikah dalam waktu dekat ini mengawali kariernya sebagai desainer grafis di Forhet pada 2005. Lebih kurang setahun kemudian, dia bergabung dengan Matahari Studios—sebuah pengembang game lokal—sebagai special effects artist.

"Kebetulan, saya lalu dapat informasi bahwa Ubisoft akan membuka studio di Asia Tenggara," ujar pria yang mengaku belajar mendesain obyek-obyek dalam game secara otodidak ini.



Salah satu setting lokasi di game Assassins Creed III


Jadilah Richard mengajukan lamaran sebagai special effects artist. Tetapi, posisi yang diinginkannya itu ternyata tidak tersedia. Richard lantas nyemplung sebagai level artist dan modeller di Ubisoft Singapura pada tahun 2008 silam. Dia adalah salah satu dari dua orang Indonesia yang tergabung dalam tim awal studio Ubisoft Singapura yang berjumlah 25 orang.

"Ketika itu ada kejadian lucu di mana saya diminta mengisi form pekerjaan. Saya diberikan laptop, tetapi keyboardnya menggunakan bahasa Perancis. Lama sekali saya mengisinya karena harus mencari huruf yang tepat satu per satu, ha-ha-ha," ujar Richard sambil tergelak ketika mengenang pengalamannya tersebut. Maklum, Ubisoft adalah perusahaan asal Perancis. Rupanya mereka lupa membawa peralatan yang cocok untuk kawasan Asia Tenggara.

Tiga tahun bekerja di Singapura, Richard lantas pindah ke studio utama Ubisoft di Montreal, Kanada, di mana dia bermukim hingga kini.

Pengalaman Richard menggunakan keyboard berbahasa Perancis berlanjut dalam bentuk yang berbeda di Montreal karena bahasa Perancis adalah bahasa utama di kota itu. Richard pun makin getol belajar bahasa Perancis. "Sekarang sudah tidak kaku lagi berbahasa Perancis meskipun masih harus banyak belajar," ujarnya.
  
Pekerjaan kolosal
Melihat tampilan dunia dalam seri game Assassin's Creed yang luas dan begitu mendetail, dapat dibayangkan bahwa pembuatnya pastilah bekerja keras untuk merealisasikan lingkungan game dari gambaran konsep yang ditetapkan sebelumnya.

Di studio Ubisoft, sebagian besar tanggung jawab ini berada di pundak art director yang memberikan arahan seputar rancangan game pada sejumlah sub-bagian, termasuk character design dan level designer yang menjadi atasan Richard.

"Kalau diumpamakan, level designer membuat 'mangkuk' lingkungan dunia game berikut 'level box' yang mewakili obyek-obyek dalam dunia game. Level artist seperti saya kemudian mewujudkan dunia itu sesuai arahan," jelas Richard mengenai bidang pekerjaannya.

Dari situ, Richard bersama tim level artist memikirkan kira-kira arsitektur seperti apa yang sesuai dengan setting game, lalu bekerja membuat obyek-obyek dan lingkungan dalam game berdasarkan referensi yang didapat berikut limitasi interaksi dalam game yang ditetapkan oleh programmer.

Kadang proses ini bisa membuat pusing tujuh keliling. Richard memberi contoh salah satu level dalam game Assassin's Creed: Brotherhood yang menampilkan reruntuhan Colosseum di Roma, Italia, lengkap dengan ruang-ruang bawah tanahnya.



Colosseum dalam game Assassins Creed: Brotherhood


"Kami harus membuat Colosseum sesuai dengan keadaannya pada abad ke-15, tahun 1400-an, sementara gambar-gambar referensi yang tersedia hanya dari tahun 2000-an," ungkap Richard. Kendati demikian, nyatanya di tengah keterbatasan itu tim pengembang Ubisoft tetap berhasil memvisualisasikan desain Colosseum yang megah.

Ketika itu, Richard antara lain bertanggung jawab membuat setting dungeon atau ruang tahanan bawah tanah di Colosseum yang juga dipakai sebagai arena kejar-kejaran menggunakan kuda di dalam game. "Proses pembuatannya lama sekali, tapi ketika dimainkan dalam game, lima menit saja level-nya sudah lewat, ha-ha-ha," ucap Richard.

Dalam proses pembuatan game, Ubisoft menerapkan sistem milestone atau target pencapaian dalam kurun waktu tertentu. Jika sudah dekat waktu deadline, Richard kerap lembur demi merampungkan pekerjaan.

Tantangan dalam melakukan proses desain lingkungan game itu pun selalu mengalami eskalasi dari judul ke judul. Menurut Richard, ini karena Ubisoft selalu meminta rancangan yang lebih detail untuk game berikutnya. "Pengerjaan dari Assassin's Creed II ke Brotherhood lalu setelah itu ke Revelations, misalnya, selalu harus disertai dengan peningkatan kualitas sehingga kami harus bekerja lebih giat lagi."

Saat semuanya sudah selesai, dunia game kemudian digabungkan dengan bagian-bagian lainnya, seperti karakter game hasil rancangan character artist dan fashion designer yang juga dibuat berdasarkan referensi faktual.

Hasil karya Richard bisa dilihat di serangkaian judul game dalam seri populer ini, mulai dari Assassin's Creed II, Assassin's Creed: Brotherhood, Assassin's Creed: Revelations, hingga yang terbaru Assassin's Creed III, yang tersedia untuk platform PC dan konsol game, seperti Xbox 360 dan PlayStation 3.


Gerilya
Richard mengaku menikmati bekerja di studio terbesar Ubisoft di Montreal. "Suasananya cair, kekeluargaan. Semua karyawan, misalnya, makan siang bersama tanpa memandang posisi atau jabatan."

Meski begitu, pria yang mengaku suka main game untuk melihat-lihat desain lingkungannya dan mencari inspirasi ini masih menyempatkan diri pulang ke Tanah Air dengan memanfaatkan waktu senggang antarpembuatan judul game.

"Kebetulan, sekarang lagi in-between, jadi bisa pulang ke rumah," ujar Richard ketika ditemui KompasTekno di sela-sela gelaran Indocomtech 2012 di Jakarta, November lalu. Saat itu, seri game terbaru yang turut ditangani Richard, Assassin's Creed III, memang telah rampung dan baru dirilis ke pasaran.

Soal industri game di Indonesia, Richard mengatakan bahwa sebenarnya terdapat banyak talenta berbakat di Tanah Air. Hanya saja, menurut Richard, di samping belum adanya investor besar yang berani mendanai pembuatan game seperti Assassin's Creed, ada hal lain yang sedikit mengganjal kemajuan dunia game Nusantara dalam mengembangkan game berskala besar.

"Banyak yang bagus, tapi kebanyakan dari mereka bergerak seperti pejuang gerilya zaman kemerdekaan, yaitu terpisah-pisah antardaerah. Seandainya saja bisa disatukan, tentu bisa kuat sekali," ujar Richard.

Bagaimana dengan para rekan seprofesi yang memutuskan untuk mengadu nasib di negeri orang, seperti Richard sendiri? Menurut dia, hal tersebut berkaitan dengan besarnya penghargaan atas karya mereka yang bisa diperoleh di luar negeri.

"Namanya juga memenuhi kebutuhan hidup. Di Indonesia banyak talenta pembuat game berkualitas internasional, tapi penghasilannya kurang. Seandainya keadaan itu berubah, pasti semua yang bekerja di luar negeri akan pulang kampung dengan senang hati," tandasnya

Senin, 03 Desember 2012

ALL-STAR BATTLE ROYALE (NEW)





Gimana jadinya jika Kratos VS Drake Nathan wah pasti gak kebayang jika mereka berdua beradu jotos...hehehehehe yang jelas di game fighting ini kalian dapat melihat beberapa karakter dari Sony seperti infamous,unharted,god of war,bioshock,killzone,little big planet dan masih banyak lagi akan beradu fisik...

Jumat, 30 November 2012

New : Ben OMniverse





gebrakan baru dari seri BEN 10 dengan judul Ben OMNIVERSE. Dengan peningkatan grafis yang cukup lumayan dari seri terdahulunya, game ini dapat berjalan dengan mulus di CFW 3.55 untuk versi ori game ini berjalan diatas Official Firmware (OF) diatas 4.25. bagi para penggemar ben kalian sudah dapat memainkannya di versi 3.55.

Senin, 26 November 2012

NEW Game CFW 3.55 : Epic Mickey





Game buatan akhir tahun ini cukup dapat menghibur. eiiits jangan salah karena ini bukan Game buatan untuk anak-anak karena puzzlenya cukup membuat anda mengkerutkan dahi..
buat  Gamers yang Hobby sama teka-teki (Puzzle). jangan lewatkan karena saya sendiri setelah mengetestnya cukup lumayan juga puyengnya...hehehe
Game ini dapat berjalan di CFW 3.55 sedangkan untuk versi asli OF  sony diatas 4.25

Jumat, 23 November 2012

News : Hitman Absolution


Menyebut judul Hitman, tentu kita angat ingat dengan seorang pembunuh botak dengan barcode di belakang kepalanya, Agent 47. Ya, sang pembunuh bayaran kini telah kembali pada game terbarunya, Hitman: Absolution.
Agent 47 is back!
Pada Hitman: Absolution, Agent 47 ditugaskan untuk membunuh handler-nya Diana Burnwood yang dilaporkan telah berkhianat. Namun ternyata, ada sesuatu di balik pembunuhan tersebut dan Agent 47 diberikan tugas oleh Diana untuk melindungi seorang gadis agar tidak menjadi seperti dirinya. Bingung dengan situasi ini, Agent 47 kemudian memutuskan untuk menyelidiki masalah ini lebih lanjut yang tentu saja membuatnya dianggap menjadi pengkhianat juga.
Hitman: Absolution pada intinya adalah sebuah game stealth, dimana menyelinap menghindari lawan dan mencapai target tanpa ketahuan itu penting. Tentu saja, tidak ada aturan yang melarang kita untuk masuk dan menembaki semua yang bergerak, selain tentunya skor yang buruk di ujung stage.
Bagaimana caranya mencapai tujuan tanpa terlihat polisi?
Sebagai seorang pembunuh bayaran, kita memiliki banyak pilihan untuk bisa membunuh target. Seperti biasa, Agent 47 memiliki kawat untuk mencekik lawan sampai tewas. Selain itu, kita bisa mengambil berbagai barang yang tersedia pada environment seperti ranjau, racun, atau kalau mau membuatnya terlihat seperti kecelakaan juga bisa.
Menyembunyikan "korban" di dalam lemari
Agent 47 memiliki skill baru, yaitu Instinct. Dengan mengaktifkan Instinct, kita akan bisa melihat posisi lawan, pergerakan lawan hendak kemana dan mencari benda-benda yang bisa kita gunakan. Instinct mode ini sangat mempermudah gameplay, karena kita tidak lagi buta dalam menjelajah lokasi.
Pada Instinct Mode, kita juga bisa menggunakan Point Shooting, dimana kita memilih beberapa target sekaligus dan kemudian mengeksekusi mereka dengan satu perintah secara otomatis, tanpa perlu kita melakukan tembak-tembakan manual.
Agent 47 menyamar menjadi pendeta
Agent 47 juga bisa menyamar menjadi orang lain, seperti menyamar menjadi polisi, tukang daging, bahkan menjadi dokter. Uniknya, kita bisa menggunakan Instinct untuk mengenakan penyamaran polisi melewati polisi lain. Dengan memilih penyamaran yang tepat, maka kita bisa berlenggang-kangkung di daerah terlarang tanpa dicurigai. Tentu saja, Instinct mode bisa habis, sehingga kita harus mengambil keputusan apakah mau menghindari lawan ataupun menerobos dengan resiko Instinct Gauge habis.
Kita tidak selalu harus membunuh seseorang. Misi yang diberikan tergantung dari situasi yang ada. Kadang Agent 47 harus melarikan diri dari polisi secara diam-diam atau menyelinap masuk ke sebuah gedung tanpa terlihat siapa-siapa. Untuk bisa mencapai posisi tersebut, Agent 47 bisa memanjat, bergelantungan, menyamar, menyelinap menggunakan kerumunan NPC dan berbagai cara kreatif lainnya.

Bertarung sekarang menggunakan QTE
Secara keseluruhan, Hitman: Absolution masih memiliki esensi yang sama dengan Hitman sebelum-sebelumnya. Memang developer masih memberikan kita berbagai cara yang tidak jelas untuk menyelesaikan suatu objektif, namun kini kita bisa lebih berimprovisasi dan lebih bebas lagi. Sulitnya menyelesaikan suatu objektif bukan berarti kita terhambat selamanya di posisi tersebut karena selalu ada jalan lain untuk menyelesaikannya, salah satunya adalah dengan membantai semua yang bergerak.

Penggunaan Glacier 2 engine pada Hitman: Absolution benar-benar cantik. Mulai dari environment yang hidup, dimana kita bisa menjelajah kota dengan penduduknya yang sibuk dengan kegiatan masing-masing, sampai ke para karakter yang tampil dengan baik. Penuhnya environment dengan NPC terlihat memukau. Dari segi suara juga game ini memiliki voice acting yang baik dengan lagu cukup dramatis.
Mengeluarkan senjata berarti langsung ketahuan
Merasa Hitman: Absolution terlalu mudah akibat berbagai checkpoint? Terlalu casual dengan adanya Instinct Mode yang mempermudah game? Tersedia lima pilihan difficulty dengan difficulty paling sulit "Purist" dimana tidak tersedia interface, tidak ada hint ataupun guide sama sekali, tidak ada informasi apapun, bahkan kegunaan Instinct Mode sangat terbatas. Hanya tersedia crosshair untuk menembak lawan saja. Berani bilang mudah?
Hitman: Absolution memiliki replay value yang tinggi. Kita bisa mengulang sebuah stage untuk mencari cara membunuh lawan yang unik, mulai dari mencekik menggunakan kawat di tempat tersembunyi, meledakkan tempat dimana mereka berdiri menggunakan bahan peledak, atau mendorong mereka jatuh dari balkon. Tentu saja bagi yang stress memainkan game ini, tidak ada yang bisa mencegah kita untuk meledakkan bom di tengah-tengah kerumunan orang. Pilihan ada di tangan Anda.


news : epic mickey


Review Epic Mickey 2
Mickey dan Oswald beraksi
Epic Mickey bisa dibilang salah satu game dari Disney yang sukses karena berhasil menarik perhatian cukup banyak gamer, baik pemain casual maupun pemain hardcore. Dengan kesuksesan ini, Warren Spector dari Junction Point Studios dan Disney memutuskan untuk mengeluarkan sekuel yang berjudul Disney Epic Mickey 2: The Power of Two. Berbeda dengan sebelumnya yang ekslusif untuk Wii saja, sekuel ini dirilis untuk Wii, Wii U, PS3, Xbox 360, PC, dan Mac.
Dalam Epic Mickey 2, kamu masih bermain sebagai Mickey. Tentunya sesuai dengan judulnya, The Power of Two, kali ini petualangan Mickey ditemani oleh Oswald the Lucky Rabbit. Petualangan ini terjadi beberapa waktu setelah Epic Mickey pertama.
Review Epic Mickey 2
Apakah kehadiran Oswald dalam game ini membantu?
Wasteland, tempat karakter-karakter Disney yang dilupakan berkumpul, telah mencapai kedamaian. Tetapi suatu hari gempa terjadi dan menghancurkan tempat ini. Mad Doctor, karakter antagonis dari Epic Mickey pertama, diperkirakan menyebabkan kejadian ini lagi. Tetapi ternyata dia muncul dan mengatakan bahwa dia sadar akan kesalahannya dan tobat untuk membantu mengembalikan Wasteland. Meskipun Oswald mempercayai Mad Doctor, Gus the Gremlin dan Ortensia, pacar Oswald, masih ragu akan hal ini. Akhirnya keduanya memutuskan untuk kembali memanggil Mickey untuk memeriksa hal ini.
Gameplay dalam Epic Mickey 2 masih sama. Sebagai Mickey, kamu memiliki magic paint brush yang terdiri daripaint dan paint thinner yang dapat memunculkan dan menghilangkan objek. Tentunya kuas ajaib ini juga digunakan untuk melawan musuh baru yang bernama Blotworx. Sedangkan Oswald memiliki sebuah remote control yang dapat digunakan untuk menyalakan objek-objek elektronik. Oswald juga memiliki kemampuan lain seperti terbang dengan menggunakan telinganya.
Review Epic Mickey 2
Kembalinya magic paint brush

Terkuaknya judul RESIDENT EVIL baru


Sebuah rating game telah terkuak di Korea. Korean Gaming Rating Comittee telah memberikan rating kepada sebuah judul game untuk PlayStation 3 dan Xbox 360, yaitu Resident Evil: Revelations yang ditulis di situsnya sebagai Biohazard Reveleations.
Ini bisa saja merupakan kesalahan, namun badan rating Korea tersebut sudah memiliki rating untuk Resident Evil: Revelations di 3DS. Mengingat situs tersebut sudah sering membocorkan berita misalnya DmC HD, Dragonball Z for Kinect dan sebagainya, ada kemungkinan bahwa hal ini adalah benar.
Capcom sendiri dulu memberikan screenshot Resident Evil: Revelations yang memiliki resolusi cukup tinggi seperti terlihat di atas, jadi bukan tidak mungkin game ini bisa hadir di konsol PlayStation 3 dan Xbox 360.